Di sini para guru menulis, ya menulis. Mulailah dari sekarang. Tulis apa saja;  tentang diri Anda,  Sekolah Anda, Murid Anda, Pengalaman mengajar, dan terserah Anda. Mungkin tulisan Anda kecil, sedikit, sepele, tetapi sangat bermanfaat bagi kolega Anda.

Selamat memulai.

37 Tanggapan to “Guru Menulis”


  1. Sukses n Maju Terus PGRI Gunungkidul YESSSSSSS!!!!!!

    1. pgrigk Says:

      Maju terus bersama guru bermutu.

      1. Achmadi Says:

        Guru bermutu yessss
        Pembelajaran dengan metode ICT dan CTL noooooo jika ICT = Isine Ceramah Thok serta CTL = Catet Tinggal Lunga.

    2. Muhammad Songaif Says:

      SEBUAH LAMUNAN DI AWANG-AWANG.
      Gimana ya kalau KKM UN SD/MI dan US SD/MI ditentukan sekaligus oleh pemerintah, Dikpora, atau BSNP ? Kalau sekarang yang UN KKMnya ditentukan oleh sekolah, sedang yang US oleh pemerintah yaitu P.Agama, PKn, SBK, dan Penjaskes yaitu 7.10, sementara yang ditentukan oleh sekolah selain yang diUNkan adalah IPS. Bagaimana ya kalau dibalik DAN KIRA-KIRA BERANI NGGAK YAA yang diUNkan KKMnya ditentukan pemerintah, sedang yang diUSkan ditentukan oleh sekolah atau seluruhnya saja ditentukan pemerintah. Renungan saya ini menggelitik sebuah pertanyaan yang kita cari adalah kualitas kelulusan atau kuantitas kelulusan yaaa ?? yo maju terus yoooo……PE…GE….ER….I…maju…pendidikan majuuuu yoo. Amin.

      1. Ridlo Aliansyah Says:

        Lamunan saudara Muhammad Songaif baik juga kalau kita perhatikan. tapi saya juga punya renungan jika KKM UN dan US SD ditentukan pemerintah,kita akan kembali bernostalgia pada tahun 60an, sudah ada KKM waktu itu namanya “biji mati” nilai 3 = nilai mati 3, nilai 4 = nilai mati 2, nilai 5 = nilai mati 1. Untuk menentukan lulus dan tidak tinggal melihat nilainya : kalau ada nilai 3 otomatis tidak lulus karena nilai mati sudah 3, kalau ada nilai 4 dan nilai 5 otomatis juga tidak lulus karena sudah memiliki nilai mati 3 (nilai 4=2, nilai 5=1) dan seterusnya bila ada nilainya 5 ada tiga juga tidak lulus karena nilai 5 = 1x 3 = 3. Waktu itu tidak terjadi apa-apa kalau tidak lulus….bahkan murid atau siswa sudah siap kalau tidak lulus……salut sdr M. Songaif punya lamunan saya punya renungan…


  2. Beberapa hal yang nampak delimatis, disatu sisi gencar upaya peningkatan mutu pendidikan, disisi lain harus dibarengi penuntasan WAJAR sembilan tahun dan optimalisasi akses layanan pendidikan. sementara anggaran dari APBD belum ditopang dengan PAD yang berarti. Salah satu wajah akibat dari itu semua, SMP N 4 Semin yang sebenarnya strategis terpaksa jalan ditempat karena terbatasnya dana.
    Terimakasih pak Kepala Dinas atas saran pada kami untuk Tidak “NGOYO”. bukan berarti kami gak sanggup, tapi semata2 karena memang tidaklah mudah berdiri pada situasi yang delematis seperti ini. Kami Memahami koq

    1. bahron Says:

      keterbatasan bukan berarti ketidak berdayaan, sy selalu berprinsip “tidak terlalu penting dimana kita bersekolah, tetapi lebih penting bagaimana bersekolah itu sendiri” sy yakin keterbatasan sebagaimana SMP 4 Semin yang P Guru Hargo sampaikan, akan mengasilkan output yang optimal karena dibagaimanai oleh seseorang yang visible didukung dengan “memahami”. sebegini ini sy alumni sekolah yang kondisinya jauh lebih terbatas, dengan modal PD dan optimintis. selamat berjuang P hargo.

  3. pgrigk Says:

    Supaya tidak delimatis, terapkan saja “Tuntas wajar dikdas berkualitas berlandaskan imtaq” Kalah sebelum perang? jangan. Kerahkan potensi yang ada adalah yang terbaik. Merajut pelepah pisang menjadi tas cantik lebih baik dari melebur emas tanpa cetakan. Selamat berjuang.

  4. bahron Says:

    memasuki tahun pelajaran baru, banyak harapan, juga banyak tantangan


  5. Keterbukaan lebih memacu pada peningkatan pendidikan daripada budaya paket atau keterwakilan dalam suatu kompetisi.Segala sesuatu menuju ke arah lebih baik dimulai dari kegigihan dan niat dalam diri. Bila setiap guru berniat sungguh-sungguh dan gigih maka peningkatan mutu pendidikan lebih cepat terwujud. PGRI adalah wadah yang seharusnya selalu aktif dan eksis ber kegiatan di muka para guru, dan bukan semata informasi hasil perjuangan belaka. Apa artinya keberadaan (PGRI) bila selama ini tak dimiliki keberadaan itu, maka PGRI harus selalu tampil.Selamat bekerja

  6. bahron R Says:

    alhamdulillah, telah terbit Permindiknas nomor 39 tahun 2009 tentang “PEMENUHAN BEBAN KERJA GURU DAN PENGAWAS SATUAN PENDIDIKAN” alternatif solusi pemenuhan 24 jam mengajar, yang menjadi kendala untuk realisasi Tunjangan sertifikasi


  7. Gemana yha kiat biar GURU tidak hanya pemilik kartu anggota dan “tukang iuran wajib” tapi lebih merasa bertanggungjawab sebagai bagian dari organisasi sebesar ini?
    Buat dong even2 kompetisi memacu profesionalisme guru dengan kegiatan berbagai bidang ! Biasanya Mr Bahron gak akan pernah beralasan ” gak ada biaya ” he he he

  8. bahron R Says:

    betul P Hargo. dengan kepengurusan yang baru pereode ini insyaallah kita akan lebih banyak kegiatan sebagaimana usul anda. kita mulai dari HUT PGRI dan Hari Guru Nasional tahun 2009 ini

  9. Achmadi Says:

    Kepuasan batin tidak bisa diukur atau dinilai dengan apapun.Banyaknya harta bukanlah satu-satunya standar kepuasan batin tetapi sarana yang harus diperjuangkan, Allah Maha Kaya memanggil dan akan memberi sebagian kekayaan-Nya bagi umat yang masih merasa kurang (memang manusia itu dalam kekurangan)tapi terus mengupayakan dan menomorsatukan sebagian hartanya itu untuk memenuhi panggilan-Nya (ibadah haji) dengan tidak dinyana-nyana sekali lagi Allah akan melipatgandakan hartanya melalui berbagai arah.Satu contoh : Ketika penulis berdoa di Arafah, Raudhoh, dan Multazam serta Hijir Ismail getaran ghaib mengenai badan dan seluruh sendi tulang, jiwa dan pori-pori kulit dingin menggigil dan tak terasa keringat dinginku membasahi baju ihrom, tetesan deras air matapun membasahi seluruh kacamata dan sapu tangan, seluruh tubuh menjadi lemas lunglai tak berdaya tanganpun gemetar menengadah keatas berdoa : “Robbna habblana min azwajina wa dzurriyatina qurrotaa’ayuni waj’alna lil muttaqina imama” amin.Akhirnya penulis percaya : “Allah mengabulkan doa hamba yang serba masih dalam keadaan kekurangan dihadapan Allah” Benar, Allah itu akan menjawab bagi orang yang kaya dan mampu naik haji tapi tidak melaksanakannya dengan kata-kata “AKU MAHA KAYA DAN AKAN AKU BERIKAN SEBAGIAN KEKAYAANKU KEPADA UMAT YANG MERASA KURANG MAMPU TETAPI TERUS BERUPAYA “NYELENGI” (jawa)BERUPAYA SUNGGUH DAN MENUNAIKAN HAJI”
    Demikianlah uneg-uneg isi hati pengalaman rohani dan pribadi selama di Masjidil Haram tahun 1430 H/2009 M. Penulis benar-benar bersyukur bahwa Allah mengabulkan permohonan penulis mengganti rejeki melalui anak yang diberi kemudahan memperoleh pekerjaan. Semoga uneg-uneg pribadi ini dapat mendorong teman-teman untuk memenuhi Panggilan Illahi. Amin.

  10. Mur`s Says:

    ZAKAT
    Bupati Gunungkidul melalui surat Edaran Nomor 451/1489 tertanggal 27 Oktober 2009 dan ditindaklanjuti oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga juga melalui surat Edarannya Nomer 451/054 tertanggal 12 Januari 2010 perihal “menghgimbau dan menyerukan” oleh Kepala Dinas Dikpora “menghimbau dan mengajak” yang ditujukan kepada para pejabat, pegawai, kepala sekolah, dan …yang beragama Islam, untuk secara bersama dengan semangat kebersamaan, keteladanan, dan keikhlasan, melaksanakan Gerakan Zakat, Infaq dan Shodaqoh.
    Memang Zakat adalah merupakan salah satu rukun Islam dan bagian harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya biasa disebut Mustahiq (baca UU 38/1999, ps 1 : 2 dan penjelasan ps 11,13)
    Antara Zakat dengan Infak/Shodaqoh memang berbeda, zakat itu wajib hukumnya, sedangkan infaq dan shodaqoh setahu saya tidak wajib. Pendayagunaannyapun berbeda. Hasil pengumpulan Zakat didayagunakan untuk Mustahiq : fakir, miskin, amil, muallaf, riqab, gharim, sabilillah, dan ibnussabil.(baca Kep.Menag. 373/2003 ps 28). Adapun hasil penerimaan infaq dan shodaqoh didayagunakan terutama untuk usaha produktif (Idem.ps.29-30)
    Oleh karena itu UU 38/1999 daalam penjelasan ps.17 mengamanahkan bahwa karena Infaq dan shodaqoh didayagunakan untuk usaha yang produktif sedang zakat untuk Mustahiq, maka pengadministrasian keuangannya harus dipisahkan antara keuangan Zakat dan Keuangan infaq dan shodaqoh.
    Sebagai pegawai dilingkungan dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga saya menyambut baik atas himbauan, seruan, ajakan dari Pemerintah daerah maupun Dinas
    Dikpora Gunungkidul. Harapan pribadi pula semoga saudara-saudara pegawai dilingkungan Dinas merespon himbauan ini dan dapat diwujudkan dengan KESADARAN DAN KEIKHLASAN TANPA PAKSAAN “EWUH PEKEWUH” kepada siapapun. Semoga. Kalau boleh tanya bagi yang membaca terutama Ketua Bidang Keagamaan/Kerohanian PGRI Kab. Gunungkidul dapat membantu saya cara menghitung Zakat Gaji yang saya peroleh setiap bulan ??? Saya tunggu dalam rubrik ini pula. Trims. Mohon maaf bila “uneg-uneg” saya ini banyak kesalahannya.

    1. Achmadi Says:

      Tulisan tentang Zakat yang benar adalah dari Tulisan saya ACHMADI. Maaf ralat kpd yang tertera pada e-mail. Trims

  11. Achmadi Says:

    ZAKAT
    Bupati Gunungkidul melalui surat Edaran Nomor 451/1489 tertanggal 27 Oktober 2009 dan ditindaklanjuti oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga juga melalui surat Edarannya Nomer 451/054 tertanggal 12 Januari 2010 perihal “menghgimbau dan menyerukan” oleh Kepala Dinas Dikpora “menghimbau dan mengajak” yang ditujukan kepada para pejabat, pegawai, kepala sekolah, dan …yang beragama Islam, untuk secara bersama dengan semangat kebersamaan, keteladanan, dan keikhlasan, melaksanakan Gerakan Zakat, Infaq dan Shodaqoh.
    Memang Zakat adalah merupakan salah satu rukun Islam dan bagian harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya biasa disebut Mustahiq (baca UU 38/1999, ps 1 : 2 dan penjelasan ps 11,13)
    Antara Zakat dengan Infak/Shodaqoh memang berbeda, zakat itu wajib hukumnya, sedangkan infaq dan shodaqoh setahu saya tidak wajib. Pendayagunaannyapun berbeda. Hasil pengumpulan Zakat didayagunakan untuk Mustahiq : fakir, miskin, amil, muallaf, riqab, gharim, sabilillah, dan ibnussabil.(baca Kep.Menag. 373/2003 ps 28). Adapun hasil penerimaan infaq dan shodaqoh didayagunakan terutama untuk usaha produktif (Idem.ps.29-30)
    Oleh karena itu UU 38/1999 daalam penjelasan ps.17 mengamanahkan bahwa karena Infaq dan shodaqoh didayagunakan untuk usaha yang produktif sedang zakat untuk Mustahiq, maka pengadministrasian keuangannya harus dipisahkan antara keuangan Zakat dan Keuangan infaq dan shodaqoh.
    Sebagai pegawai dilingkungan dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga saya menyambut baik atas himbauan, seruan, ajakan dari Pemerintah daerah maupun Dinas
    Dikpora Gunungkidul. Harapan pribadi pula semoga saudara-saudara pegawai dilingkungan Dinas merespon himbauan ini dan dapat diwujudkan dengan KESADARAN DAN KEIKHLASAN TANPA PAKSAAN “EWUH PEKEWUH” kepada siapapun. Semoga. Kalau boleh tanya bagi yang membaca terutama Ketua Bidang Keagamaan/Kerohanian PGRI Kab. Gunungkidul dapat membantu saya cara menghitung Zakat Gaji yang saya peroleh setiap bulan ??? Saya tunggu dalam rubrik ini pula. Trims. Mohon maaf bila “uneg-uneg” saya ini banyak kesalahannya.

  12. Kandung Says:

    Ya Pak Ahmadi, berharga sekali tulisan Bapak, semoga menjadi pertimbangan ulang bagi kita yang selalu mengatakan “tidak cukup”, “besok”, “belum mampu”, “anak masih kecil” dan sejenisnya. Allah menurunkan aturan dan anjuran untuk kemaslahatan, bukan menyengsarakan.

  13. mridho Says:

    PGRI GK jadilah pelopor dalam peningkatan kualitas guru di gunungkidul melalui inovasi-inovasi, jangan jerdil……

  14. Sukirman Says:

    Konkercab II dan Rapat Pimpinan I PGRI Cabang Semin diselenggarakan pada hari Ahad, 25 April 2010 bertempat di SMA Negeri 1 Semin
    Dalam sambutan Ketua PGRI Kab. menyampaikan sejarah/perjuangan PGRI selama ini, sehingga dengan Sambutan tersebut peserta konfrensi mendapatkan pengalaman yang sangat berharga, untuk berkiprah dalam PGRI. Dengan Konkercab II ini PGRI Cabang Semin memiliki pedoman untuk melangkah pada tahun 2010, dan pada Rapat Pimpinan I dihimbau oleh Ketua Cabang agar setiap Ranting mengadakan reorganisasi kepengurusan, ksrena di Cabang Semin ada 15 Ranting yang terdiri dari: TK 4 Ranting, SD 6 Ranting, SMP 4 Ranting, dan SMA satu Ranting.

  15. suratno Says:

    Berikut ini adalah artikel kiriman dari Bp.SUDIRMAN SIAHAAN PUSTEKOM DIKNAS JAKARTA, semoga bermanfaat bagi teman-teman guru khususnya di gunungkidul
    KINERJA KEPALA SEKOLAH DI ERA GLOBALISASI
    Ade Cahyana

    Abstract

    School headmasters in the globalization era play important roles to improve the quality of education in schools. They are educators, managers, administrators, supervisors, leaders, innovators, and motivators. Because of their important roles, they must have six competences, that are to develop, communicate and apply their schools’ vision; to create conducive educational environment; to use their schools’ resources to create conducive educational environment; to work together with students’ parents and society; to be good role models; and to affect wider social and political environment. The competences must be able to measure and may support effective leadership.

    Keywords: school headmaster, competence, leadership

    ————–
    *) Ade Cahyana adalah Kepala Pusat Statistik Pendidikan-Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan nasional.
    A. Latar Belakang

    Diyakini bahwa pendidikan merupakan salah satu bidang pokok yang dapat secara efektif menyiapkan dan membangun bangsa Indonesia. Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 1). Artinya, diharapkan pendidikan nasional akan menghasilkan manusia Indonesia yang kemampuan kognitif, afektif dan psikomotoriknya yang tinggi berimbang.

    Kualitas pendidikan menjadi tolok ukur kualitas sumber daya manusia (SDM) suatu bangsa. United Nations Development Program (UNDP) memasukkan pendidikan sebagai salah satu unsur penentu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI). Pada tahun 2007, IPM Indonesia berada pada peringkat ke-107 dari 177 negara (HD Report 2007/2008), dan peringkat ini menunjukkan bahwa kualitas SDM negara ini sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Kualitas pendidikan atau SDM Indonesia yang rendah ini merupakan persoalan utama pendidikan nasional.

    Kualitas pendidikan yang rendah ini disebabkan oleh sejumlah faktor. Pada tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah, faktor yang urgen diperhatikan adalah manajemen atau pengelolaan sekolah. Orang yang paling bertanggung jawab untuk mengelola sekolah ialah kepala sekolah. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 1990 Pasal 12 Ayat 1 menyatakan “kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana”. Dengan perkataan lain, kinerja kepala sekolah (meski bukan satu-satunya faktor) perlu benar-benar diperhatikan untuk meningkatkan mutu pendidikan.

    Peran dan kinerja kepala sekolah perlu dipetakan saat ini agar diketahui kondisi dan situasi kepala sekolah saat ini. Untuk itu, perlu diuraikan bagaimana peran dan fungsi serta kompetensi kepala sekolah selama ini dan dalam rangka menjawab tantangan globalisasi saat ini. Selain itu, kepala sekolah merupakan unsur kelengkapan organisasi yang harus ada di sekolah sebagai pemimpin lembaga. Oleh karena itu, perlu dibahas bagaimana efektivitas kepemimpinan kepala sekolah selama ini. Pembahasan aspek dan komponen yang terkait dengan eksistensi dan esensi kepala sekolah di atas perlu dibahas dalam rangka memberikan solusi peningkatan kinerja kepala sekolah sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu layanan pendidikan di tingkat satuan pendidikan yaitu sekolah.

    B. Konsepsi dan Pembahasan

    Pada bagian ini akan dikaji dan dibahas hal-hal yang terkait dengan kinerja kepala sekolah di era globalisasi yaitu: peran kepala sekolah, kompetensi kepala sekolah, dan efektivitas kepemimpinan kepala sekolah.

    1. Peran Kepala Sekolah

    Mulyasa (2004) mengemukakan bahwa semakin tinggi tingkat kepemimpinan yang diduduki oleh seseorang dalam organisasi, nilai dan bobot strategik dari keputusan yang diambilnya semakin besar pula. Sebaliknya, semakin rendah kedudukan seseorang dalam suatu organisasi, keputusan yang diambilnya pun lebih mengarah kepada hal-hal yang bersifat teknis operasional. Lebih lanjut, hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan berhubungan dengan produktivitas dan efektivitas organisasi. Misalnya, studi dengan pendekatan sosiologis tentang efektivitas sekolah menengah memperlihatkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah memainkan peran yang sangat penting (Lightfoot, 1983; lihat juga telaah mutakhir perihal tren dan isu manajemen pendidikan yang dikompilasi dalam ERIC, 2002).

    Perubahan sistem pemerintahan dari sentralistik ke desentralistik, sebagaimana yang diamanatkan oleh UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, sangat berpengaruh pada manajemen pendidikan secara luas, termasuk pada tingkat satuan pendidikan di jenjang pendidikan dasar. Pengaruh ini berupa kemunculan konsep-konsep baru tentang pengelolaan dan penyelenggaraan sekolah. Pengelolaan sekolah pada hakikatnya merupakan proses merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, memimpin dan mengendalikan usaha para anggota organisasi sekolah serta mendayagunakan seluruh sumber daya organisasi sekolah dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

    Pengelolaan sekolah tidak dapat dilepaskan dari peran dan fungsi kepala sekolah. Di era globalisasi ini, kepala sekolah berperan sebagai figur teladan dan mediator antara sekolah dan masyarakat sekitarnya. Adapun fungsinya, kepala sekolah menjadi edukator, manajer, administrator, supervisor, pemimpin, inovator, dan motivator. Kepala sekolah menjadi manajer yang memaksimalkan pendayagunaan sumber daya yang tersedia secara produktif untuk mencapai tujuan pendidikan pada tingkat sekolah. Dia harus dapat memastikan bahwa sistem kerjanya berjalan lancar dan semua sumber daya yang diperlukan untuk mencapai hasil harus tersedia secukupnya dengan kualitas yang memadai.

    Lebih dari manajer, kepala sekolah adalah pemimpin yang bertanggung jawab menciptakan lingkungan belajar kondusif yang memungkinkan anggotanya mendayagunakan dan mengembangkan potensinya secara optimal. Dalam lingkungan yang kondusif, para guru dan peserta didik terdorong untuk saling belajar, saling memotivasi, dan saling memberdayakan. Di sini, kepala sekolah seharusnya berada di garda paling depan dalam keteladanan, pemotivasian, dan pemberdayaan. Dalam kata-kata Ki Hadjar Dewantara, peran kepala sekolah adalah ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani (di depan, menjadi teladan; di tengah, turut bekerja keras; dan di belakang, mengikuti dan mengawasi). Oleh karena peran dan fungsi ini vital, kegagalan dan keberhasilan sekolah banyak ditentukan oleh kepala sekolah.

    Akan tetapi, walaupun kehidupan politik Indonesia sudah cukup banyak berubah, birokrasi pemerintahannya masih sering membelenggu otoritas kepala sekolah. Belenggu ini menjadikan kepala sekolah tak berdaya untuk menjalankan tugas-tugasnya. Masalah ini coba diatasi dengan penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) untuk memberi ruang gerak yang lebih longgar kepada kepala sekolah. Lebih lanjut, MBS dimaksudkan untuk meningkatkan kemandirian pengelola sekolah dengan melimpahkan wewenang pengambilan keputusan dari pemerintah pusat kepada pengelola sekolah.

    Masalah lain yang mengadang kepala sekolah adalah gaji dan fasilitas yang rendah, misalnya, dibandingkan dengan gaji dan fasilitas kepala sekolah di negara- negara maju. Anehnya, banyak guru-sebagaimana diketahui, orang yang menduduki jabatan kepala sekolah dahulunya selalu guru-yang berminat untuk menjadi kepala sekolah, termasuk dengan menempuh cara-cara kotor. Gaji dan fasilitas yang rendah tentu saja tidak mendukung kinerja kepala sekolah dan, selain itu, juga mendorong kepala sekolah untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan moralitas pendidik. Pemberian tunjangan profesi diharapkan dapat menyelesaikan masalah ini.

    Uraian di atas menggambarkan bahwa kepala sekolah berperan penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan, apalagi pada era globalisasi ini. MBS dan pemberian tunjangan profesi ditujukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut di atas. Di luar itu, untuk meningkatkan kinerjanya, kepala sekolah juga dituntut memiliki kompetensi yang memadai. Karenanya, kemudian diambil kebijakan untuk menyusun standar kompetensi kepala sekolah sebagai bagian dari standar nasional pendidikan.

    2. Standar Kompetensi Kepala Sekolah

    Agar dapat melaksanakan fungsi dan peran di atas secara optimal, seorang kepala sekolah harus mempunyai kualitas tertentu. Setidaknya terdapat tiga kualifikasi yang harus dipenuhi. Pertama, kepala sekolah mengetahui dan memahami visi dan misi sekolah. Kedua, kepala sekolah memiliki kompetensi untuk mencapai visi dan merealisasikan misi sekolah. Ketiga, kepala sekolah mempunyai karakter dan integritas.

    Visi dan misi merupakan komponen konseptual pokok suatu sekolah. Sekolah yang tidak mempunyai visi dan misi dapat diartikan tidak mempunyai pandangan tentang masa depan dan sesuatu yang harus diperbuat untuk mengantisipasi masa depan itu. Visi dan misi mesti betul-betul diketahui dan dipahami oleh kepala sekolah, dan kepala sekolah dituntut memiliki kompetensi untuk mewujudkannya secara nyata. Semua ini membutuhkan karakter dan integritas yang tinggi dari kepala sekolah.

    Kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan yang diperlihatkan seseorang ketika melakukan sesuatu. Kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah adalah sebagai berikut (diadaptasi dari Council of Chief State School Officers/CCSSO, 2002):
    a. Memfasilitasi pengembangan, penyebarluasan, dan pelaksanaan visi pembelajaran yang dikomunikasikan dengan baik dan didukung oleh komunitas sekolah.
    b. Membantu, membina, dan mempertahankan lingkungan sekolah dan program pengajaran yang kondusif bagi proses belajar peserta didik dan pertumbuhan profesional para guru dan karyawan.
    c. Menjamin bahwa manajemen organisasi dan pemanfaatan sumber daya sekolah digunakan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, efisien, dan efektif.
    d. Bekerja sama dengan wali murid dan anggota masyarakat, memenuhi kepentingan dan kebutuhan komunitas yang beragam, dan memobilisasi sumber daya masyarakat.
    e. Memberi contoh (teladan) tindakan yang baik.
    f. Memahami, menanggapi, dan memengaruhi lingkungan politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang lebih luas.

    Sementara itu, integritas adalah ketaatan pada nilai-nilai moral dan etika yang diyakini seseorang dan membentuk perilakunya sebagai manusia yang berharkat dan bermartabat. Ada ungkapan yang bagus untuk memahami pengertian integritas: integritas Anda diukur tidak dari kemampuan Anda untuk menaklukkan puncak gunung, tetapi dari kemampuan Anda untuk menaklukkan diri sendiri.

    Setidaknya terdapat sejumlah ciri yang menggambarkan integritas kepala sekolah: dapat dipercaya, konsisten, komit, bertanggung jawab, dan secara emosional terkendali.
    a. Dapat dipercaya (amanah). Seorang kepala sekolah haruslah orang yang dapat dipercaya. Kepercayaan itu diperoleh secara sukarela, tidak dengan meminta apalagi memaksa orang lain untuk memercayainya. Kepala sekolah tidak perlu berpidato di depan para guru, murid, atau orang tua murid bahwa ia adalah orang yang dapat dipercaya. Perilakunya sehari-hari memberi informasi yang akurat tentang keamanahan itu. Kepala sekolah yang dapat dipercaya memiliki kejujuran yang tidak diragukan.
    b. Konsisten. Kepala sekolah yang konsisten dapat diandalkan. Kepala sekolah seperti ini tidak mencla-mencle, perbuatannya sesuai dengan perkataannya. Kepala sekolah seperti ini tidak bermuka banyak. Ia menjalankan kebijakan pendidikan secara tegas dan bijaksana, dan tidak perlu menjadi bunglon sosial untuk mengamankan kebijakan itu.
    c. Komit. Kepala sekolah yang komit berarti terikat secara emosional dan intelektual untuk mengabdikan diri sepenuhnya bagi kepentingan anak didiknya. Kepala sekolah seperti ini tahu persis bahwa tanggung jawabnya tidak mungkin dapat dipikul setengah hati. Pekerjaan sebagai kepala sekolah baginya bukan pekerjaan paruh waktu. Ia tidak boleh merangkap pekerjaannya dengan pekerjaan lain, atau menjadi kepala sekolah di lebih dari satu tempat.
    d. Bertanggung jawab. Kepala sekolah memiliki kewajiban sosial, hukum, dan moral dalam menjalankan perannya. Kepala sekolah yang berintegritas tidak akan menghindar, apalagi lari, dari tanggung jawabnya. Kepala sekolah yang mengutamakan kepentingan anak didiknya sadar betul bahwa perilakunya harus dapat dipertanggungjawabkan secara sosial, hukum, dan moral.
    e. Secara emosional terkendali. Kepala sekolah yang mempunyai kecerdasan emosional tinggi sangat menyadari pengaruh emosinya dan emosi orang lain terhadap proses pemikirannya dan interaksinya dengan orang lain. Kepala sekolah seperti ini mampu mengaitkan emosi dengan penalaran, menggunakan emosi untuk memfasilitasi penalaran, dan secara cerdas menalarkan emosi. Dengan kata lain, ia menyadari bahwa kemampuan kognitif seseorang diperkaya dengan emosi dan bahwa emosi harus dikelola oleh kognisi.

    Kompetensi-kompetensi dan integritas tersebut harus dapat diukur. Maka, kompetensi dan integritas itu perlu dijabarkan ke dalam pernyataan-pernyataan operasional. Selanjutnya, akan dipaparkan enam kompetensi di atas secara operasional.

    Kompetensi 1:
    Memfasilitasi penyusunan, penyebarluasan, dan pelaksanaan visi dan misi pembelajaran yang dikomunikasikan dengan baik dan didukung oleh komunitas sekolah. Kepala sekolah harus dapat memastikan bahwa sekolahnya memiliki visi dan misi yang jelas dan disepakati bersama serta didukung oleh komunitas sekolahnya. Jika visi dan misi itu belum ada, ia harus berinisiatif untuk menyusunnya dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan atas sekolahnya.

    Ukuran kinerja yang dapat diidentifikasi bagi kompetensi ini adalah sebagai berikut.
    a. Visi dan misi disusun bersama-sama dengan pihak-pihak yang berkepentingan.
    b. Karyawan, keluarga murid, dan anggota masyarakat memahami visi dan misi sekolah.
    c. Pihak-pihak yang berkepentingan meyakini bahwa visi sekolah digunakan sebagai pedoman kerja oleh semua pihak yang terlibat dalam urusan sekolah.
    d. Kontribusi anggota komunitas sekolah dalam mewujudkan visi dan misi itu dihargai.
    e. Pihak-pihak yang berkepentingan menerima informasi tentang kemajuan upaya pencapaian visi dan misi sekolah.
    f. Komunitas sekolah terlibat aktif dalam upaya peningkatan kemajuan sekolah.
    g. Program, rencana, dan kegiatan sekolah disusun berdasarkan visi dan misi sekolah.
    h. Program dan rencana dilaksanakan.
    i. Data penilaian pembelajaran peserta didik digunakan untuk menyusun visi, misi dan tujuan sekolah.
    j. Data demografik murid dan keluarganya digunakan untuk menyusun misi dan tujuan sekolah.
    k. Hambatan pencapaian visi dan misi dapat ditanggulangi.
    l. Pengadaan sumber daya yang diperlukan untuk mendukung implementasi misi dan tujuan sekolah telah diupayakan.
    m. Sumber daya yang ada untuk mendukung visi, misi dan tujuan telah digunakan dengan efektif dan efisien.
    n. Visi, misi, dan rencana dipantau, dievaluasi, dan direvisi secara periodik.
    Pengetahuan dan keterampilan yang perlu dikuasai oleh kepala sekolah untuk mencapai ukuran kinerja seperti itu adalah sebagai berikut.
    a. Tujuan belajar dalam masyarakat yang pluralistik.
    b. Teknik penyusunan dan penerapan rencana strategis.
    c. Teori dan pemikiran sistem.
    d. Teknik pengumpulan, pengolahan, dan penafsiran data.
    e. Komunikasi yang efektif.
    f. Konsensus dan negosiasi yang efektif.

    Kompetensi 2: Membantu, membina, dan mempertahankan lingkungan sekolah dan program pengajaran yang kondusif bagi proses belajar peserta didik dan pertumbuhan profesional para guru dan karyawan. Kepala sekolah harus dapat memastikan penciptaan lingkungan sekolah yang kondusif. Sekadar mengingatkan, lingkungan belajar yang kondusif memungkinkan orang-orang di dalamnya untuk mendayagunakan dan mengembangkan potensi mereka secara seoptimal. Kepala sekolah harus berupaya keras agar masalah-masalah sosial, seperti penyalahgunaan narkoba, tidak mengimbas ke dalam lingkungan sekolahnya. Dalam lingkungan seperti itu, para guru dan peserta didik tergerak untuk saling belajar, saling memotivasi, dan saling memberdayakan. Suasana seperti ini, dengan keteladanan, memberi ruang untuk saling belajar bertanggung jawab dan belajar mengembangkan kompetensi sepenuhnya.

    Ukuran kinerja yang dapat diidentifikasi bagi kompetensi ini adalah sebagai berikut.
    a. Semua orang diperlakukan secara adil, setara, berharkat, dan bermartabat.
    b. Pengembangan profesional terfokus pada pembelajaran peserta didik sesuai dengan visi dan tujuan sekolah.
    c. Peserta didik dan karyawan sekolah dihargai dan dipandang penting.
    d. Hambatan belajar diidentifikasi, diklarifikasi, dan ditanggulangi.
    e. Keberagaman dalam pengembangan pengalaman belajar disimak dan dipertimbangkan.
    f. Belajar seumur hidup didorong dan diberi contoh.
    g. Membangun budaya harapan tinggi untuk diri sendiri, peserta didik, dan karyawan.
    h. Menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran.
    i. Prestasi peserta didik dan karyawan diakui dan dirayakan.
    j. Menyediakan beragam kesempatan untuk belajar bagi semua peserta didik.
    k. Sekolah ditata dan diarahkan untuk mencapai keberhasilan peserta didik.
    l. Program kurikulum, ko-kurikulum, dan ekstra-kurikulum dirancang, dilaksanakan, dan disempurnakan secara berkala.
    m. Hasil riset, pendapat guru, dan rekomendasi dari anggota masyarakat terpelajar digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan penting.
    n. Budaya sekolah dievaluasi secara teratur.
    o. Hasil belajar peserta didik dinilai dengan menggunakan berbagai teknik.
    p. Karyawan sekolah dan peserta didik diberi peluang menggunakan berbagai sumber informasi tentang prestasi.
    q. Berbagai cara supervisi dan evaluasi dimanfaatkan.
    r. Menyusun program-program untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan keluarganya.

    Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk dapat berkinerja seperti itu adalah sebagai berikut:
    a. Psikologi perkembangan peserta didik.
    b. Teori belajar terapan.
    c. Teori motivasi terapan.
    d. Desain, evaluasi, dan penyempurnaan kurikulum.
    e. Prinsip-prinsip pengajaran yang efektif.
    f. Teknik-teknik evaluasi belajar.
    g. Keberagaman dan artinya bagi program pendidikan.
    h. Model-model belajar dan pengembangan profesional orang dewasa.
    i. Proses perubahan bagi sistem, organisasi, dan individu.
    j. Peranan teknologi dalam membantu proses belajar peserta didik dan pertumbuhan professional.
    k. Budaya sekolah.

    Kompetensi 3: Menjamin bahwa manajemen organisasi dan pemanfaatan sumber daya sekolah digunakan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, efisien, dan efektif. Kepala sekolah harus dapat memastikan bahwa apa pun prinsip-prinsip dan teknik manajemen organisasi dan pemanfaatan sumber daya sekolah yang diterapkan semata-mata digunakan bagi kepentingan peserta didik. Ia harus dapat menjamin bahwa lingkungan fisik sekolahnya aman dan sehat bagi peserta didik, guru, dan karyawan pendukung lainnya.

    Ukuran kinerja yang dapat diidentifikasi bagi kompetensi ini adalah sebagai berikut.
    a. Pengetahuan tentang pembelajaran, pengajaran, dan perkembangan peserta didik digunakan dalam pengambilan keputusan manajemen sekolah.
    b. Prosedur operasional digunakan dan dikelola untuk memaksimalkan peluang keberhasilan belajar. Menerapkan teknik baru yang menguntungkan.
    c. Menyusun dengan baik rencana dan prosedur operasional untuk mencapai visi dan tujuan sekolah.
    d. Kesepakatan kontrak sekolah dikelola secara efektif.
    e. Bangunan dan semua fasilitas sekolah dioperasikan secara aman, efisien, dan efektif.
    f. Waktu dikelola untuk memaksimalkan pencapaian tujuan organisasi.
    g. Mengidentifikasi masalah dan peluang potensial.
    h. Setiap masalah ditanggulangi secara tepat waktu.
    i. Sumber daya manusia dan sumber daya lainnya dikelola untuk mencapai tujuan sekolah.
    j. Sistem organisasi dipantau dan dimodifikasi secara teratur sesuai dengan kebutuhan.
    k. Pihak-pihak yang berkepentingan dilibatkan dalam keputusan yang memengaruhi sekolah.
    l. Tanggung jawab dibagi-bagi untuk memaksimalkan akuntabilitas.
    m. Menerapkan perangkaan masalah yang efektif dan keterampilan pemecahan masalah.
    n. Menerapkan keterampilan solusi konflik secara efektif.
    o. Menerapkan proses kelompok yang efektif dan keterampilan pencapaian konsensus.
    p. Memelihara lingkungan sekolah yang aman, bersih, indah, dan menyenangkan.
    q. Fungsi-fungsi sumber daya manusia dijamin untuk mendukung pencapaian tujuan sekolah.
    r. Memelihara kerahasiaan dokumen sekolah.

    Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk dapat berkinerja seperti itu adalah sebagai berikut.
    a. Prinsip-prinsip pengembangan organisasi.
    b. Prosedur operasi di tingkat sekolah dan daerah.
    c. Prinsip-prinsip dan isu tentang keamanan dan kesehatan lingkungan sekolah.
    d. Manajemen sumber daya manusia.
    e. Prinsip-prinsip penggunaan keuangan manajemen sekolah.
    f. Prinsip-prinsip penggunaan fasilitas sekolah.
    g. Aspek hukum pengoperasian sekolah.
    h. Teknologi mutakhir yang mendukung fungsi-fungsi manajemen.

    Kompetensi 4: Bekerja sama dengan wali murid dan masyarakat, memenuhi kepentingan dan kebutuhan komunitas yang beragam, dan memobilisasi sumber daya masyarakat. Kepala sekolah harus menyadari bahwa tujuan sekolah tidak mungkin dicapai tanpa melibatkan semua pihak yang berkepentingan, utamanya para wali murid. Manajemen sekolah adalah upaya bersama agar hal-hal yang tadinya terasa besar dan berat menjadi lebih terkendali. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Oleh sebab itu, kepala sekolah tidak boleh putus harapan untuk menghimbau dan merangkul semua pihak yang berkepentingan demi kemajuan sekolahnya.

    Ukuran kinerja yang dapat diidentifikasi bagi kompetensi ini adalah sebagai berikut.
    a. Sering berkomunikasi dengan masyarakat luas dan terlibat aktif dalam kehidupan sosial.
    b. Membina hubungan baik dengan para pemimpin masyarakat.
    c. Menggunakan informasi dari keluarga peserta didik dan masyarakat.
    d. Membangun hubungan dengan organisasi-organisasi bisnis, agama, politik, dan pemerintah.
    e. Menyikapi dengan bijaksana orang-orang dan kelompok-kelompok yang memiliki nilai-nilai dan opini yang mungkin bertentangan.
    f. Sekolah dan masyarakat saling melengkapi sumber daya.
    g. Mengamankan sumber daya masyarakat untuk membantu sekolah memecahkan masalah dan mencapai tujuan.
    h. Menciptakan kemitraan dengan dunia bisnis, lembaga pendidikan lain, kelompok masyarakat di sekitar untuk mendukung pencapaian tujuan sekolah.
    i. Anggota masyarakat diperlakukan secara sama.
    j. Mengakui dan menghargai keberagaman.
    k. Membina hubungan dengan media yang efektif.
    l. Melaksanakan program hubungan masyarakat yang komprehensif.
    m. Menggunakan sumber daya publik secara tepat dan bijaksana.
    n. Memberikan contoh kolaborasi masyarakat bagi karyawan sekolah.
    o. Memberi kesempatan kepada karyawan sekolah untuk mengembangkan keterampilan berkolaborasi.

    Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk dapat berkinerja seperti itu adalah sebagai berikut.
    a. Isu dan tren yang mungkin berdampak pada komunitas sekolah.
    b. Kondisi dan dinamika komunitas sekolah yang beragam.
    c. Sumber daya masyarakat.
    d. Hubungan masyarakat dan strategi dan proses pemasaran.
    e. Model yang berhasil tentang kemitraan sekolah, keluarga, bisnis, masyarakat, pemerintah, dan pendidikan tinggi.

    Kompetensi 5: Memberi contoh (teladan) tindakan yang baik. Kepala sekolah pasti berada dalam posisi yang serba kikuk jika tidak menunjukkan kualitas perilaku yang dapat diteladani. Dapat dipercaya, konsisten, komit, bertanggung jawab, dan secara emosional terkendali adalah kualitas yang seharusnya dimiliki para pemimpin. Karakter moral seperti itulah sebenarnya yang memiliki dampak jangka panjang. Kepala sekolah yang hanya mengandalkan kewenangan jabatannya untuk memengaruhi lingkungan hanya akan mendapatkan hasil jangka pendek.

    Ukuran kinerja yang dapat diidentifikasi bagi kompetensi ini adalah sebagai berikut.
    a. Mematuhi kode etik pribadi dan profesional.
    b. Memperlihatkan nilai-nilai, keyakinan, dan sikap yang mengilhami munculnya tingkat kinerja yang tinggi.
    c. Menunjukkan contoh perilaku yang dapat diteladani.
    d. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan kegiatan sekolah.
    e. Mempertimbangkan dampak praktik manajerial terhadap orang lain.
    f. Menggunakan pengaruh jabatan untuk meningkatkan program pendidikan, bukan untuk kepentingan pribadi.
    g. Memperlakukan orang lain dengan adil, sederajat, serta berharkat dan bermartabat.
    h. Melindungi hak-hak dan kerahasiaan peserta didik dan karyawan sekolah.
    i. Apresiatif dan peka terhadap keragaman dalam komunitas sekolah.
    j. Mengakui dan menghormati wewenang orang lain.
    k. Mempertimbangkan nilai-nilai yang hidup di kalangan komunitas sekolah yang beragam.
    l. Menegakkan integritas dan perilaku yang etis dalam komunitas sekolah.
    m. Memenuhi kewajiban hukum dan perjanjian.
    n. Menaati hukum dan prosedur secara adil dan bijaksana.

    Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk dapat berkinerja seperti itu adalah sebagai berikut.
    a. Tujuan pendidikan dan peran kepemimpinan dalam masyarakat modern.
    b. Berbagai kerangka dan perspektif tentang etika.
    c. Nilai-nilai dari komunitas sekolah yang beragam.
    d. Kode etik profesi.
    e. Filsafat dan sejarah pendidikan.

    Kompetensi 6: Memahami, menanggapi, dan memengaruhi lingkungan politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang lebih luas. Kepala sekolah perlu menyadari bahwa kehidupan di sekolahnya adalah bagian dari lingkungan kehidupan yang lebih luas. Kehidupan lain di luar sekolahnya berpengaruh pada pengelolaan sekolah dengan baik. Berpikir sistemik akan membantunya untuk memahami posisi sekolahnya dalam gambaran yang lebih besar. Sekolahnya sendiri adalah bagian dari subsistem sosial yang terkait dengan sistem politik, ekonomi, dan lain-lainnya.

    Ukuran kinerja yang dapat diidentifikasi bagi kompetensi ini adalah sebagai berikut.
    a. Berupaya dengan sungguh-sungguh untuk memengaruhi lingkungan sekolah bagi kepentingan peserta didik dan keluarganya.
    b. Membangun komunikasi di kalangan komunitas sekolah tentang kecenderungan, isu, dan kemungkinan perubahan dalam lingkungan sekolah.
    c. Mengadakan dialog terus-menerus dengan wakil-wakil kelompok masyarakat.
    d. Memfungsikan komunitas sekolah sesuai dengan kebijakan, hukum, dan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah dan pusat.
    e. Berusaha memengaruhi pembentukan kebijakan publik untuk menyediakan pendidikan yang bermutu.
    f. Membangun komunikasi dengan para pengambil keputusan di luar komunitas sekolah.

    Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk dapat berkinerja seperti itu adalah sebagai berikut.
    a. Prinsip-prinsip birokrasi pendidikan yang mendasari sistem sekolah Indonesia.
    b. Peranan pendidikan umum dalam mengembangkan dan memperbarui masyarakat yang demokratis.
    c. Hukum yang berkaitan dengan pendidikan dan persekolahan.
    d. Sistem dan proses politik, sosial, budaya, dan ekonomi yang mempengaruhi sekolah.
    e. Model dan strategi perubahan dan resolusi konflik seperti yang diterapkan dalam konteks politik, sosial, budaya, dan ekonomi sekolah.
    f. Isu-isu dan faktor global yang memengaruhi proses pembelajaran.
    g. Dinamika pengembangan dan pendukungan kebijakan dalam sistem politik yang demokratis.
    h. Pentingnya keragaman dan persamaan dalam masyarakat demokratis.

    Kepala sekolah harus memiliki keyakinan atau pendirian tertentu untuk dapat berkinerja sebagaimana yang dituntut baginya. Misalnya, ia harus yakin bahwa korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) adalah perbuatan tercela yang tidak bertanggung jawab dan merusak. Keyakinan ini yang besumber dari nilai-nilai moral yang dianutnya ikut mewarnai perilakunya dalam mengelola sekolah yang dipimpinnya. Dengan keyakinan itu, misalnya, ia tidak akan memberi kesempatan terjadinya praktik-praktik KKN yang tidak terpuji itu di sekolahnya. Ia tahu persis bahwa perilakunya adalah contoh yang kemungkinan besar akan menular di kalangan bawahannya dan bahkan para murid. Keyakinan/pendirian berikut ini harus dimiliki oleh kepala sekolah untuk dapat berkinerja sebagaimana yang diharapkan.

    a. Kepala sekolah yakin bahwa bekerja adalah ibadah. Ia menerima tanggungjawabnya secara ikhlas dan mantap. Oleh sebab itu, ia tidak akan melebih-lebihkan arti penting pekerjaannya. Ia tidak menonjolkan kelebihan dan keberhasilannya. Semua yang perlu dilakukan semata-mata untuk memberikan peluang agar setiap peserta didik memperoleh pendidikan yang berkualitas. Pada saat yang sama, ia secara ikhlas menerima konsekuensi penegakan prinsip dan tindakan yang dilakukannya.
    b. Semua pengaruh yang dimilikinya digunakan semata-mata demi kepentingan peserta didik, bukan untuk kepentingan lain. Tujuan utama sekolah adalah membelajarkan peserta didik. Ia akan berusaha mengendalikan diri sendiri dan bawahannya agar tidak merugikan kepentingan masa depan anak didiknya. Ia berpendirian bahwa semua peserta didik perlu memiliki pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang diperlukan untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi lingkungannya.
    c. Semua orang dapat dididik dan semua peserta didik dapat belajar. Ada beragam cara yang dapat digunakan agar peserta didik dapat memiliki cara belajar seumur hidup. Oleh sebab itu, kepala sekolah perlu menekankan bahwa sumber belajar tidak cuma guru, tetapi masih banyak yang lain, seperti teman, buku, orangtua, dan sebagainya. Ia perlu menekankan bahwa dalam masyarakat modern, pendidikan memberi peluang untuk hidup lebih bermakna dan memberi kesempatan berperan dalam mobilitas sosial.
    d. Kepala sekolah harus yakin bahwa anggota sekolahnya memerlukan standar, harapan, dan kinerja yang tinggi. Karenanya, ia harus yakin bahwa visi sekolah harus menekankan standar pembelajaran yang tinggi. Ia juga perlu yakin perlunya menempuh risiko yang rasional untuk meningkatkan mutu sekolanya. Menggunakan pengaruh jabatan secara produktif untuk melayani peserta didik dan keluarganya.
    e. Kepala sekolah harus yakin tentang pentingnya keikutsertaan seluruh anggota komunitas sekolah. Keputusan manajemen sekolah dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pembelajaran sehingga ia memercayai para guru dan karyawan sekolah dan mempertimbangkan pendapat mereka dalam mengambil keputusan manajerialnya. Ia juga melibatkan keluarga dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya dalam proses pengambilan keputusan sekolah. Ia yakin tentang perlunya membangun dan memelihara semangat komunitas sekolah yang peduli. Dengan cara ini, ia akan dapat memfasilitasi penggalian sumber daya keluarga dan masyarakat untuk mendukung pendidikan peserta didik.
    f. Kepala sekolah harus yakin bahwa belajar berlangsung sepanjang hayat (life-long learning). Ia harus dapat memberi contoh yang pas mengenai hal ini, sehingga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari praktik sehari-hari dalam manajemen sekolahnya. Sehingga, ia menunjukkan keterbukaan dan penerimaan gagasan baru, tidak jadi soal dari mana pun datangnya gagasan itu.
    g. Kepala sekolah yakin tentang perlunya pengembangan profesional sebagai bagian integral peningkatan sekolah. Ia tahu dunia tidak pernah berhenti dan terus berubah. Oleh sebab itu, ia akan selalu mencari peluang untuk terus meningkatkan profesionalitas diri dan karyawannya.
    h. Kepala sekolah harus yakin bahwa keragaman komunitas sekolah akan memperkaya sekolah. Ia mengakui dan memberi peluang adanya keragaman gagasan, nilai-nilai, dan budaya. Tindakannya ditunjukkan dengan tidak memberi peluang praktik-praktik diskriminatif di sekolahnya.
    i. Kepala sekolah berpendirian bahwa lingkungan belajar harus aman, sehat, dan suportif. Ia akan berusaha keras agar masalah-masalah sosial tidak akan berpengaruh pada efektivitas sekolahnya. Misalnya, ia akan menggerakkan anggota sekolahnya untuk memerangi penyalahgunaan narkoba, perjudian, pemerasan, dan perilaku asosial lainnya. Ia juga berkeyakinan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman. Oleh karena itu, ia akan menggerakkan anggotanya untuk bersih lahir-batin dalam semua hal dan memelihara kebersihan itu dengan konsisten.
    j. Kepala sekolah yakin bahwa sekolahnya beroperasi sebagai bagian integral dari masyarakat yang lebih besar. Oleh karenanya, ia menerapkan pendekatan sistemik dalam setiap tindakan yang memengaruhi kepentingan sekolahnya.
    k. Kepala sekolah yakin bahwa publik memerlukan informasi yang cukup tentang sekolah dan kemajuan atau bahkan masalah yang dihadapi. Oleh sebab itu, ia merasa perlu bersikap terbuka dan bertanggung gugat atas praktik yang diterapkan dalam mengelola sekolahnya. Ia yakin bahwa jika dirinya bersikap jujur dan terbuka, pihak-pihak yang berkepentingan juga akan dapat memahami kekeliruan yang mungkin telah dilakukan dan bahkan mungkin akan mau membantunya untuk memperbaiki kekeliruan itu.

    Standar kompetensi dan kinerja yang dikemukakan di sini akan berimplikasi pada penetapan kebijakan baru tentang persiapan, seleksi, penempatan, dan pengembangan kepala sekolah. Dengan standar kompetensi seperti itu, seleksi kepala sekolah harus dilakukan secara transparan, bertanggung gugat, dan demokratis. Setiap orang, terutama guru, dapat menjadi kepala sekolah jika memenuhi persyaratan kompetensi yang ditetapkan. Perguruan tinggi, utamanya mantan IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan), perlu menyusun program studi manajemen pendidikan yang benar-benar dapat menyiapkan calon-calon kepala sekolah yang memiliki standar kompetensi sebagaimana yang diharapkan. Pusat Pengujian Depdiknas, misalnya, perlu menyusun alat (tes) yang dapat digunakan untuk menguji kompetensi calon kepala sekolah.

    Selain itu, kepala sekolah dipilih secara demokratis dari sekumpulan calon yang memiliki catatan perilaku yang berintegritas tinggi. Para pemilih adalah semua anggota atau pihak-pihak yang berkepentingan bagi kemajuan pendidikan di lingkungan sekolah yang bersangkutan. Cara pemilihan yang demokratis seperti ini harus dapat dipantau secara seksama untuk menghindari kemungkinan dicederai oleh praktik suap. Untuk pengembangan lebih lanjut, perguruan tinggi bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat) dapat melaksanakan program-program pengembangan yang disusun sesuai dengan kebutuhan unik bagi masing-masing kepala sekolah.

    Tanpa adanya standar kompetensi yang cukup tinggi bagi para kepala sekolah rasanya sukar berharap bahwa pendidikan di Indonesia akan dikenal berkualitas baik di dunia. Apakah standar kompetensi kepala sekolah itu terlalu tinggi? Bagi mereka yang tidak peduli dengan masa depan anak didik, standar seperti itu jelas merupakan siksaan. Namun, masih banyak calon atau kepala sekolah yang memang benar-benar serius melaksanakan pekerjaannya. Bagi mereka yang sungguh-sungguh berkemauan menjadi kepala sekolah yang bervisi, kompeten, dan berintegritas tinggi standar kompetensi sebagaimana yang diuraikan adalah masuk akal. Standar seperti itu adalah tantangan pekerjaan. Kinerja yang bagus dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anggota sekolahnya merupakan sebuah penghargaan tersendiri. Orang-orang seperti ini layak mendapat penghargaan sepantasnya dalam posisinya sebagai kepala sekolah.
    3. Kepemimpinan yang Efektif

    Lewis (1987) menjelaskan kepemimpinan yang efektif ialah mereka yang dapat beradaptasi dengan situasi bervariasi yang akan menentukan keberhasilan pemimpin. Kepemimpinan yang berorientasi pada kepuasan personal sering kali disukai bawahan. Dalam kaitannya dengan MBS, kepemimpinan dipahami sebagai segala upaya yang dilakukan dengan hasil yang dapat dicapai oleh kepala sekolah dalam mengimplementasikan MBS demi mewujudkan tujuan sekolah secara efektif dan efisien.

    Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria sebagai berikut:
    a. Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan baik, lancar dan produktif.
    b. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
    c. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan.
    d. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan karyawan sekolah.
    e. Bekerja dengan tim manajemen.
    f. Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

    Pidarta (1988) mengemukakan tiga macam keterampilan yang harus dimiliki oleh kepala sekolah untuk menyukseskan kepemimpinannya, yaitu keterampilan konseptual: keterampilan untuk memahami dan mengoperasikan organisasi; keterampilan manusiawi: keterampilan bekerjasama, memotivasi, memimpin; serta keterampilan teknik: keterampilan dalam menggunakan keterampilan, metode, teknik, dan perlengkapan untuk menyelesaikan tugas tertentu.

    Untuk memiliki kemampuan, terutama keterampilan konseptual, para kepala sekolah diharapkan melakukan kegiatan-kegiatan berikut:
    a. Senantiasa belajar dari pekerjaan sehari-hari terutama dari cara kerja para guru dan pegawai sekolah lainnya.
    b. Melakukan observasi kegiatan manajemen secara terencana.
    c. Membaca berbagai hal yang berkaitan dengan kegiatan yang sedang dilaksanakan.
    d. Memanfaatkan hasil-hasil penelitian orang lain.
    e. Berpikir untuk masa yang akan datang.
    f. Merumuskan ide-ide yang akan diujicobakan.

    Selain itu, kepala sekolah harus dapat menerapkan gaya kepemimpinan yang efektif sesuai dengan situasi dan kebutuhan serta memotivasi para guru dan karyawan sekolah. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan Southern Regional Education Board (SREB), lembaga ini mengidentifikasi 13 faktor pokok yang mendukung keberhasilan kepala sekolah dalam mengembangkan prestasi belajar siswa. Ketigabelas faktor tersebut adalah:
    a. Menciptakan misi yang terfokus pada upaya peningkatan prestasi belajar siswa, melalui praktik kurikulum dan pembelajaran yang memungkinkan peningkatan prestasi belajar siswa.
    b. Menanamkan ekspektasi yang tinggi pada semua siswa dalam mempelajari bahan pelajaran pada level yang lebih tinggi.
    c. Menghargai dan mendorong implementasi praktik pembelajaran yang baik, sehingga dapat memotivasi dan meningkatkan prestasi belajar siswa.
    d. Memahami bagaimana memimpin organisasi sekolah supaya seluruh guru dan karyawan dapat memahami dan peduli terhadap siswanya.
    e. Memanfaatkan data untuk memprakarsai upaya peningkatan prestasi belajar siswa dan praktik pendidikan di sekolah dan di rumah secara terus-menerus.
    f. Menjaga agar setiap orang dapat memfokuskan diri pada prestasi belajar siswa.
    g. Menjadikan para orang tua sebagai mitra dan membangun kolaborasi untuk kepentingan pendidikan siswa.
    h. Memahami proses perubahan dan memiliki kepemimpinan untuk dapat mengelola dan memfasilitasi perubahan tersebut secara efektif.
    i. Memahami bagaimana orang dewasa belajar (baca: guru dan karyawan) dan mengetahui bagaimana upaya meningkatkan perubahan yang bermakna sehingga terbentuk kualitas pengembangan profesi secara berkelanjutan untuk kepentingan siswa.
    j. Memanfaatkan dan mengelola waktu untuk mencapai tujuan dan sasaran peningkatan sekolah melalui cara-cara yang inovatif.
    k. Memperoleh dan memanfaatkan berbagai sumber daya secara bijak.
    l. Mencari dan memperoleh dukungan dari pemerintah, tokoh masyarakat dan wali murid untuk berbagai agenda peningkatan mutu sekolah.
    m. Belajar secara terus-menerus dan bekerja sama dengan rekan sejawat untuk mengembangkan riset baru dan berbagai praktik pendidikan yang telah terbukti.

    C. Kesimpulan dan Saran

    1. Kesimpulan

    Kepala sekolah di era globalisasi dituntut untuk mempunyai kepemimpinan yang berkepribadian, kepercayaan diri, keberanian, semangat, kecerdasan emosional dan sosial, pengetahuan yang luas, keterampilan profesional. Dia juga harus mampu melaksanakan prinsip-prinsip kepemimpinan dan menerapkan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan situasi dan kondisi, efektif dan inovatif.

    Di era globalisasi ini, kepala sekolah berperan sebagai figur teladan dan mediator antara sekolah dan masyarakat yang berfungsi dan harus memiliki kompetensi sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, pemimpin, inovator, dan motivator. Kepala sekolah adalah pemimpin yang bertanggung jawab menciptakan lingkungan belajar kondusif yang memungkinkan anggotanya mendayagunakan dan mengembangkan semua potensi dan lingkungan yang kondusif agar para guru dan peserta didik terdorong untuk saling belajar, saling memotivasi, dan saling memberdayakan. Kepala sekolah berada di garda paling depan dalam keteladanan, pemotivasian, dan pemberdayaan. Peran kepala sekolah adalah ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani.

    2. Saran

    Berdasarkan kesimpulan di atas maka kepala sekolah di era globaliasi ini diharapkan dapat menjalankan fungsi kepemimpinan yang efektif. Untuk itu, dalam rangka peningkatan peran dan fungsi kepala sekolah disarankan sebagai berikut:
    a. Kepala sekolah diberikan kebebasan yang bertanggung jawab dalam memimpin lembaga pendidikan pada tingkat satuan terkecil. Otonomi sekolah dan penerapan MBS harus betul disadari dan diperankan secara optimal oleh kepala sekolah.
    b. Peningkatan kompetensi kepala sekolah dalam bentuk pendidikan dan pelatihan yang relevan perlu dilakukan secara berkala. Selain itu, forum komunikasi antar kepala sekolah, misalnya Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) perlu dioptimalkan dalam rangka meningkatkan kompetensi kepala sekolah.
    c. Penguatan fungsi Manajemen Berbasis Sekolah yang memberikan otoritas penuh kepada kepala sekolah perlu terus dikaji dan dipantau pelaksanaannya agar kepala sekolah dalam melakukan kepemimpinan yang efektif di sekolah.

    Daftar Pustaka

    Barrow, R. 1986. The Philosophy of Schooling. Brighton: Wheatsheaf Book Ltd.
    Brighthouse, J. & Woods, D. 1999. How to Improve Your School. New York: Routledge.
    Cheng, Y.C. 1994. Planning and Structuring for Development and Effectiveness. Hong Kong, The Chinese University of Hong Kong.
    Council of Chief State School Officers, “School Principal Standard of Competencies,” One Massachusetts Avenue, NW . Suite 700 . Washington, DC 20001-1431. Standar kompetensi ini antara lain diadaptasi oleh Negara Bagian California dan Illinois sebagai standar profesional para kepala sekolah, http://www.csla.org
    Darling-Hammond, L. 1992. Professional Development Schools. New York: Teachers College Press.
    Encarta, Desk Encyclopedia © 1996-97 Microsoft Corporation, CD-ROM version.
    ERIC, Clearinghouse on Educational Management, Trends and Issues: the Role of School Leader, downloaded April 2002, Direproduksi oleh Pusdiklat Pegawai Depdiknas April 2002, http://eric.uoregon.edu (semua informasi dimuat di public domain dan dapat direproduksi secara bebas).
    Garmstone, R. and Wellman, B. 1995. Adaptive School in Quantum Universe, Educational Leadership. 52 (7).
    Levine, M. (Ed.). 1994. Professional Practices Schools. New York: Teachers College Press.
    Lightfoot, Sara. 1983. The Good High School: Portrait of Character and Culture, New York, Basic Books.
    Mulyasa. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung; PT Remaja Rosda Karya.
    Mulyasa. 2004. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung; PT Remaja Rosda Karya.
    Murgatroyd, S. & Morgan, C. 1993. Total Quality Management and The School. Open University Press, Buckingham, PA.
    O’Neil, John. 1995. On School as Learning Organizations. Educational Leadership.
    Satori, D. 1995. Masalah Mutu Pendidikan. Makalah bahan diskusi pendidikan bersama Kepala Sekolah dan Guru-guru di YP-PGII pada tanggal 11 Juli di Bandung.
    Sutomo. 2007. Manajemen Sekolah. Semarang: UNES.
    Taylor, B.O. (Ed.). 1990. Case Studies in Effective Schools Research. Kendal/Hunt Publishing Company.
    The World Bank. 1998. Education in Indonesia: From Crisis to Recovery. Education Sector Unit, East Asia and Pacific Regional Office.
    The Principal Internship:How Can We Get It Right? http://www.sreb.org

  16. Achmadi Says:

    KESANKU SETELAH HAL BIL HALAL
    Setelah mengikuti halal bil halal dimana-mana ada kesan yang wajib kita renungkan yakni :

    Tugas manusia hanya dua mengajak/berbuat kebaikan dan mencegah/meninggalkan kemungkaran. Dalam Al-Quran Allah menyeru bahwa Wama kholaktul jinna wa insa illa liyak buddun artinya Allah menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah. Esensi ibadah adalah amar makruf nahi munkar. Jadi mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran ditujukan utamanya untuk diri sendiri. Mengajak kebaikan pada orang lain tak diperlukan lagi jika semua insan ini dengan sadar mau amar makruf dan nahi munkar pada dirinya sendiri.
    Dalam strata sosial setiap insan berbeda-beda ada petani, pegawai, buruh, seniman,dll. Petani itu pegawai ditempat “basah” (kalau musim hujan), pegawai ada juga di tempat “basah” (punya polisy dan kewenangan)dll. Pak tani dan pegawai semua memiliki wewenang sesuai kewenangannya namun jauhilah kewenangan itu dimanfaatkan dengan sewenang-wenang menurut selera “wudele dhewe” ingat Allah tidak “sare”
    Kembali fitrah manusia ciptaan Allah untuk beribadah esensinya adalah beramar makruf nahi munkar jangan diplesetkan “Amar makruf NYAMBI mungkar” artinya kekuasaan, kewenangan kita lakukan dengan kebaikan jangan “disambi” perbuatan yang mungkar.

    Maaf ini hanya sebuah
    introspeksi spontan
    yang muncul
    dari Kata Hati
    seorang pribadi
    insan manusiawi
    yang diciptakan Illahi
    yang nanti akan kembali
    kepangkuan Yang Maha Suci
    dari sini
    dunia ini
    penuh misteri
    penuh materi
    pandai-pandailah meniti
    hidup di alam ini
    yang penuh opsi
    sebagai investasi
    di hari kelak nanti
    syurgawi menanti
    neraka tak menemui
    insya Allah
    Amin ya robbal alamin.

  17. IIP IVANA ( Kec. Cipanas Kab.CIANJUR -JABAR ) Says:

    Ketika kita akan memulai sesuatu terkadang kita merasa kebingungan dari mana memulainya,satu hal yang kadang terlupakan bahwasanya kita harus memulai dari DIRI SENDIRI…

  18. H. Achmadi, MA Says:

    Amanah.
    Setiap kita memegang suatu amanah walau terhadap diri sendiri yang kelak akan kita pertanggungjawabkan baik dihadapan Yang Maha Kuasa maupun yang memberikan amanah kepada kita. Bila kita diberi amanah untuk menggembala kambing tentu nantinya akan dimintai pertanggungjawabannya.Kebetulan kita diberi amanah menjabat sesuatu jabatan tentu kita juga akan dimintai pertanggungjawabannya. Naah semua itu selagi kita memegang amanah tidak lepas dari kritikan, cemohan, tapi juga ada penghargaan. Berikut hal yang perlu kita renungkan walau tulisan ini kecil, sedikit dan mungkin sepele tapi semoga bermanfaat bagi kita :
    1. Amanah itu ibarat orang yang terbelenggu tangannya sampai leher. Ia akan bebas karena keadilannya, dan ia akan hancur dan jatuh nama baik atau kewibawaannya karena penyelewengannya.
    2. If you judge people, you never love them.
    3. Kritikan dari manapun asalnya itu merupakan rohmat yang bertopeng.
    4. Sekecil apapun sifat apriori, tidak akan mendatangkan apresiasi. Terlalu reaktif menerima kritikan hanya akan menjadikan sikap apriori, tapi dengan proaktif edukatif akan menciptakan apresiasi
    5. Barang siapa menyia-nyiakan amanat (jika mampu -pen) maka tunggulah kehancurannya (Muhammad)
    SEMOGA BERMANFAAT. AMIN

  19. Achmadi,M.A Says:

    ANARKI-ANARKI-ANARKIIIIII
    Di muka Konferensi Pamong Praja di Solo tanggal 7 Februari 1946, Bung Hatta Wakil Presiden Pertama berkata antara lain :
    “Kedaulatan rakyat dengan tidak ada KEINSYAFAN POLITIK akan melulu menjadi ANARKI. Peliharalah masyarakat Indonesia dari BAHAYA ANARKI dengan segala tenaga dan usaha. Sebab ANARKI adalah PENYAKIT MASYARAKAT yang akan MERUBUHKAN NEGARA dan
    MEROMBAK REPUBLIK”
    Referensi : Ruslan Abdulgani, Nilai Perjuangan 1945,LP3ES Majalah Prima,No.
    Khusus 17-8-1976, edisi 7, halaman 42

  20. Achmadi Says:

    RENUNGAN
    MENYONGSONG HARDIKNAS 2 MEI

    Tidak berapa lama lagi kita akan memperingati hari pendidikan nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei. Berbicara mengenai pendidikan adalah merupakan prioritas utama dan merupakan perkara besar yang benar-benar harus diperhatikan. pendidikan itu merupakan amanah Allah Tuhan Yang Maha Esa yang harus dilaksanakan oleh setiap orang tua kepada anak-anaknya. Orang tua tidak boleh lalai terhadap pendidikan anak-anaknya itu. Anak adalah calon generasi muda yang akan mengganti kedudukan orang tua. Bila anak-anak kita bodoh pengetahuan, terutama bila anak buta dalam agama, jangan harapkan negara dan agama bisa berkembang lebih pesat dan kuat dari sebelumnya.
    Anak-anak kita adalah buah hati kita, sebagai tumpuan harapan kelak dikemudian hari. Kalau anak-anak itu terlantar tidak terdidik, bagaimana jadinay. Kita sebagai orang tua yang akan merugi. Bahkan, lebih dari itu, rasa religiusitas anak akan semakin pudar dan negara kita tercinta ini akan diinjak-injak oleh orang-orang ateis yang anti Tuhan. Naudzu billahi min dzalik
    Imam Ghazali menasehatkan bahwa “anak itu merupakakan amanat dari Allah yang dibebankan kepada orangtua dan walinya. Hatinya yang masih suci itu bagaikan mutiara yang indah dan mahal harganya”.
    Semoga bermanfaat. amin.

  21. kisworo Says:

    Beri saya orientasi dulu

  22. Achmadi Says:

    RAMADHAN

    Tamu kita akan datang,
    Itu tamu telah di muka pagar,
    Mari kita sambut dengan keramahan dan senyuman,
    Kalbu suci terpancar keheningan iman,
    Kita bersihkan pribadi dan isi rumah,
    Kita tunaikan kesalahan dengan mohon ampunan
    Kepada semua kawan.

    Itu tamu sudah di halaman,
    Ia membawa oleh-oleh berkah dan ampunan,
    Dari Yang Maha Kaya dan Pengampun,

    Tamu kita telah berada di dalam rumah,
    Sudahkah rumah kita penuhi dengan Al-Quran,
    Yang tak hanya merdu dikumandangkan,
    Namun membekas dalam setiap ucapan dan perbuatan.

    Tamu kita telah masuk ke sukma kita,
    Andaikata tiba-tiba ada panggilan ke haribaan Tuhan,
    Apa ada yang sudah kita siapkan ?
    Apakah puasa kita hanya haus dan lapar ?
    Ataukan sholat kita sekedar senam yang diritualkan ?
    Ataukah zakat kita sekedar dari pada tidak ?

    Ingat kawan,
    Tamu kita akan menginap selama sebulan,
    Selama itu kita dituntut berbuat ihsan,
    Bersyukur dan menjauhi larangan,
    Dan menaati perintah Yang Maha Dermawan,
    Baik sendirian maupun bersama-sama.

    Kita kan celaka bila kehadirannya kita sia-siakan,
    Kita bangkrut kalau hanya berfoya-foya,
    Selamat datang tamu agung Romadhan
    Kusambut kau dengan iman yang tulus,
    Kusiapkan ruhi, fikri, dan akhlaqi,

    Cepat-cepat datanglah kupeluk tamu agung,
    Kini ketemu, semoga ketemu lagi tahun depan,
    Dengan Ramadhan, bulan segala bulan.

    Amin.

    21 Syaban 1432 H/23 Juli 2011

  23. penjaga sekolah Says:

    koq lama ga pada nulis di sini ya? aku seneng mbaca-baca , lho pak.

  24. Achmadi Says:

    4 (empat) Perumpamaan tentang Dunia
    1. “Dunia ini bagaikan hotel, disinggahi oleh penghuni yang baru datang, sementara penghuni yang terdahulu sudah meninggalkannya.”
    Artinya, dunia ini hanya tempat singgah sementara, bukan untuk selama-lamanya, hanya numpang lewat saja. Maka sungguh tertipu jika seorang yang menyewa sebuah hotel/ penginapan, lalu mengklaim bahwa hotel itu miliknya, lalu ia tempati sekehendak hatinya. atau berbuat seenaknya seperti di rumahnya sendiri.
    2. “Dunia ini bagaikan seekor ular yang halus kulitnya tetapi racunnya mematikan.” Artinya, di dunia ini memang asyik, senang, enak, banyak duit, rumah bagus, mobil bagus, bahkan dikelilingi wanita-wanita cantik dan bebas memperturutkan hawa nafsu dan syahwatnya.
    3. “Dunia ini bagaikan anak yang suka berteriak-teriak, meratapi ibunya setiap hari di rumahnya”. Artinya, Kehidupan dunia itu merepotkan. Orang yang banyak harta repot mengurus hartanya, yang mengejar jabatan/pangkat repot dengan mempertahankan atau lebih tinggi jabatan/pangkatnya, yang populer repot dengan popularitasnya, yang politikus repot dengan urusan politiknya, sehingga tak ada ketenangan diantara mereka dalam dirinya.
    4. “Dunia itu bagaikan perempuan cantik, tetapi dibalik bajunya sarang penyakit, dilihat dari luarnya cantik, tapi didalamnya hancur.” Artinya, kesenangan dunia ini hanyalah kulit semata, atau semu, karena di balik itu jika tak hati-hati bisa menimbulkan bencana.

    Perenungan :

    “Gemerlap dan mempesonanya dunia yang hanya sekejab ini terkadang membuat kita lupa akan mati dan hari akhirat yang hakiki dan abadi.”

  25. Rusidi SS Says:

    pgri teruskan memperjuangkan nasib guru . gtt ,gty agar sejahtera.

  26. Rusidi SS Says:

    pendidikan adalah membebaskan manusia dari keterbelakangan , kegelapan, ketergantungan, menuju peradaban . wahai guru inilah tugas berat tetapi mulia ada ditanganu.

  27. haryonomuji Says:

    gimana sih sebenernya ilmu iklhas………gimana sih profesional tanpa honor…..semua bertanya pada hati masing-masing bisa g ya?jawabnya saya iklhas tp motornya g mau jalan lho g mau jalan lho g da bensin dan penjual bensinnya g iklhas lho q ngutang terus walaupun saya udah bilang buat pergi ngajar demi nusa dan bangsa

    1. pgrigk Says:

      Ikhlas tidak sama dengan tidak dibayar. Ikhlas sama dengan profesional plus. Iklhas selalu memenuhi standar bahkan melampaui. Profesional berkaitan dengan kewajiban dan hak (meski kadang hak didulukan, gaji dibayarkan ssbelum kerja misalnya) ada hak pribadi ada hak prasyarat terlaksananya kegiatan. Sarpras, rasa aman, dll., dan yang menempel/dititipkan di gaji dan tunjangan; wajib dikembalikan dlm bentuk buku, pelatihan, seminar, fotokopi, laptop, smartphone, printer, kertas, tinta, motor/mobil termasuk sparepart dan bensinnya, dll. Hak pribadi…di. misalnya rumah, makan keluarga, pendidikan anak, dll.

  28. tugiran Says:

    Menarik……
    udah dari 2009 aku baru buka sekarang kolom ayo menulis PGRI Gunungkidul, perlunya media ini disosialisasikan kembali kepada semua keluarga guru Gunungkidul. Karena menurut saya media ani ajang belajar menulis bagi guru dalam upaya menjadi guru amanat di dunia pendidikan . Tugiran SMP 3 Semin

    1. tulisbaca Says:

      Monggo Pak, dimanfaatkan bersama…


  29. Kenapa mayoritas di SD kekurangan guru kelas (PNS)? Cukup memang tapi GTT. ada SD yang guru kelas (PNS) cuma 2 bahkan 1 ? Sejauhmanakah atensi yang berwenang dalam persoalan ini? Tuntutannya memang harus berkualitas, tapi sudah terpenuhikah Standar Pelayanan Minimalnya ? Apakah yang berwenang membayangkan bagaimana jika tidak ada GTT ? ach ini hanya lamunan kosong………………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s