Administrasi lagi; lagi-lagi administrasi. Seberapa berat, serumit apa sehingga memahami hal yang sangat sederhana saja luput. Satu contoh ketika seorang guru menyusun program semester berbentuk matrik, yang di sana tegas terpampang dua atau tiga kompetensi dasar berurutan (misalnya ketiga-tiganya listening dengan alokasi waktu masing-masing 6, 4 dan 6 jam) dan diprogramkan minggu pertama – ketiga bulan Agustus. Ketika guru ditanya apakah selama tiga minggu berturut-turut siswa hanya belajar listening? Maka jawabnya, “Ya pasti tidak kan harus integrated?!” yang lain menjawab, “itu kan program, pelaksanaannya beda.”

 

Lalu apa fungsinya program ketika “pasti” tidak akan dilaksanakan? Mubadzir kan? Mestinya guru mulai memahami program, ya setidaknya menyusun dan atau membaca program semester sebagai garis besar “apa” akan dilaksanakan “kapan” selama satu semester, kapan KBM, kapan ulangan harian, kapan remidial teaching, kapan ulangan tengah semester, kapan ulangan akhir semester atau ulangan kenaikan kelas.

 

Ayo! Atau masih bingung? Silakan tanya!

6 Tanggapan to “Administrasi Guru?(2)”


  1. Ketidakpastian itu terjadi, karena adanya delima antara “kepatuhan” terhadap pedoman penyusunan kaldik sekolah dan konsekwensi perilaku sosial sebagai bagian dari sebuah jalinan kehidupan bersama multi demensi yang ada. ( contoh konkrit: klo ada sripah dari salah satu warga sekolah, apa iya… KBM tetap berjalan sesuai rencana, ada kegiatan perayaan HUT RI… apa mau bersikap acuh tak acuh? dan lain2 )
    Sehingga solusi untuk ini sering dari alokasi waktu yang tersedia diantaranya diplotkan untuk cadangan. Alokasi waktu cadangan ini sangat mungkin menggeser timing kegiatan yang direncanakan.
    Di sisi lain, tentu pengurangan waktu KBM seperti contoh di atas, itu tidak dibenarkan berdasarkan Pedoman Penyusunan Kaldik… iya tho… coba 1 minggu seputar Agustus dipandang sebagai 50% tidak efektif, tentu jadi salah.
    Artinya, program dalam ‘ketidakpastian waktu’ masih bisa dipahami sejauh dalam batas toleransi. yang penting tercermin komitmen pencapaian target kurikulumnya.
    (tidak flet betul dengan tulisan di atas, tapi sekedar menjadi masukan “urun rembug” aja)


  2. Makasih commentnya, untuk sharing bisa saya di attach perhitungan minggu efektif. Minggu efektif untuk SEKOLAH mestinya agak BEDA dengan minggu efektifnya GURU. Mengapa? Lha iya ta? Contoh: Kegiatan UU adalah minggu efektif bagi sekolah, tetapi tidak untuk guru. pekan porsenitas adalah efektif bagi sekolah. tetapi tidak untuk guru. Alasannya? BELAJAR bagi sekolah adalah A-Z kompetensi yang dituntut(akademik dan non). BELAJAR bagi guru hanya yang dibawah pengelolaannya saja. Minggu efektif 34-38 per tahun.
    Masalah sripah jagong tentu bukan masalah, itu kan termasuh kompetensi sosial; dengan pengertian bisa diatur sedapat mungkin.

  3. Eko Pram Says:

    Guru sebagai jabatan fungsional yang berhadapan langsung dengan makhuk hidup (baca:murid-murid) dengan berbagai dinamikanya, kadangkala menghadapi dilema yang agak berat. Di satu sisi dituntut membuat administrasi yang begitu banyak dan menguras tenaga dan pikiran, tapi di sisi yang lain administrasi yang telah dbuat “kadangkala” tidak dapat terlaksana 100% di lapangan karena dinamika yang terjadi. Dalam situasi ini, ada sebagian guru yang berpendapat administrasi bukanlah sesuatu yang penting dikerjakan oleh guru, yang penting dapat mengajar dengan baik dan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Mereka biasanya menganalogkan dengan profesi yang lain, misalnya seorang pilot yang profesional tidak perlu menulis : kapan dia harus menarik pedal gas, menarik tuas ban, menutup pintu, dsb. Yang dicatat hanyalah point-point terpenting yang mendukung kerjanya saja. Sedangkan guru yang lain berpendapat, yang penting administrasinya tertib dan rapi. Sebab administrasi pembelajaran merupakan bukti tertulis bagi guru kalau sudah melaksanakan tugasnya dengan profesional. Sehingga ketika Pengawas atau Tim Penilai lainnya mendatangi dirinya, dia dapat menunjukkan bukti, tidak hanya sekedar omongan tetapi bukti administrasi yang lengkap, teratur dan rapi.
    Lantas kalau anda bertanya : Mana yang ideal di antara ke-dua pendapat di atas? Maka secara tegas akan saya jawab : Yang ideal adalah guru yang mampu mengajar di kelas dengan baik, menghasilkan lulusan yang bermutu dan didukung oleh administrasi guru yang lengkap, teratur, rapi dan berkesinambungan. Sangat ideal bukan?

  4. muhammad syafiq imam abimanyu Says:

    Seberapa jauh pengaruh kelengkapan administrasi guru terhadap perubahan mutu pendidikan di Indonesia ? Yang ideal adalah guru mampu menguasai disiplin ilmu masing-masing, bisa diterima oleh murid secara utuh, ada perubhan yang significan terhadap sikap, perilaku dan mutu siswa. administrasi guru tidak dominan menentukan mutu pendidikan.

    1. tulisbaca Says:

      Idealnya, guru yang mampu menguasai disiplin ilmu masing-masing, bisa diterima oleh murid secara utuh, ada perubhan yang significan terhadap sikap, perilaku dan mutu siswa,tidak akan mempermasalahkan administrasi, karena mereka akan mencatat apa yang akan dilakukan, sudah dilakukan dan mengevaluasinya untuk perencanaan berikutnya, sebagai satu kesatuan utuh dari kompetensinya. Semoga.

  5. Admin Says:

    Asslmkm.
    Setau saya Administrasi guru tidak di masukan di PAK, Jd guru menganggap ga bkin jg ga papa, hehe. Itu setau saya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.